8 Destinasi Wisata Dunia yang Sebaiknya Dihindari Sementara oleh Traveler Peduli Lingkungan

Destinasi wisata overtourism

8 Destinasi Wisata Dunia yang Sebaiknya Dihindari Sementara oleh Traveler Peduli Lingkungan

Industri pariwisata global telah pulih pesat pascapandemi. Namun, kembalinya jutaan wisatawan ke berbagai destinasi populer juga memicu satu isu mendesak: overtourism. Fenomena ini terjadi ketika jumlah turis melampaui kapasitas ekologis, sosial, dan infrastruktur sebuah tempat. Akibatnya, lingkungan rusak, warga lokal terdesak, dan esensi budaya luntur.

Sebagai respons, Fodor’s Travel kembali merilis daftar tahunan “No List 2026″—delapan tempat yang sebaiknya dihindari sementara waktu agar alam dan komunitas lokal punya ruang untuk pulih. Bagi kamu yang peduli terhadap dampak perjalanan, ini saatnya menyimak dan mempertimbangkan ulang destinasi liburan berikut.

Mengapa Overtourism Jadi Masalah Serius?

Dampak overtourism lebih dari sekadar antre panjang atau foto penuh kerumunan. Di banyak tempat, pariwisata massal menyebabkan degradasi lingkungan, inflasi harga hunian, krisis air, hingga konflik sosial antara penduduk lokal dan wisatawan. Menunda kunjungan ke tempat-tempat yang sedang “berjuang bernapas” adalah bentuk kontribusi nyata dari traveler bertanggung jawab.

Daftar 8 Destinasi yang Disarankan Tidak Dikunjungi Sementara

1. Antartika

Surge wisata ekspedisi membuat kawasan beku ini kedatangan lebih dari 120.000 pengunjung dalam satu musim. Padahal, Antartika adalah salah satu ekosistem paling rapuh di bumi. Aktivitas manusia dapat mencemari perairan dan mengganggu satwa unik seperti penguin dan anjing laut. Untuk saat ini, lebih baik dukung konservasi dari jauh.

Alternatif: Jelajahi pegunungan bersalju di Patagonia atau Alaska dengan operator tur ramah lingkungan.

2. Kepulauan Canary, Spanyol

Pulau-pulau tropis ini menerima lebih dari 13 juta wisatawan per tahun, menyebabkan kemacetan, krisis air, dan kelangkaan hunian bagi warga lokal. Protes besar-besaran warga muncul menuntut pembatasan turisme.

Alternatif: Pilih pulau yang lebih kecil seperti Azores (Portugal) atau destinasi pesisir di Afrika Utara yang lebih terkelola.

3. Taman Nasional Glacier, AS

Jumlah pengunjung terus melonjak setiap musim panas, menyebabkan kemacetan ekstrem dan mempercepat kerusakan habitat alami. Ironisnya, gletser yang jadi daya tarik justru mencair karena perubahan iklim.

Alternatif: Coba jalur hiking di pegunungan Kanada atau Skandinavia yang lebih sepi dan terjaga.

4. Isola Sacra, Italia

Kawasan pesisir dekat Roma ini sedang menghadapi ancaman pembangunan pelabuhan kapal pesiar raksasa yang berpotensi merusak garis pantai dan vegetasi laut.

Alternatif: Pilih kota-kota pesisir kecil di Italia tengah seperti Sperlonga atau Terracina untuk liburan yang lebih tenang.

BACA JUGA:

5. Wilayah Jungfrau, Swiss

Pegunungan Alpen ini telah kewalahan menampung lonjakan wisatawan internasional. Desa-desa kecil seperti Grindelwald dan Lauterbrunnen menghadapi tekanan infrastruktur dan risiko hilangnya karakter budaya lokal.

Alternatif: Kunjungi wilayah Alpen Slovenia atau Austria yang menawarkan panorama serupa dengan jejak karbon lebih rendah.

6. Mexico City, Meksiko

Kota ini mengalami gentrifikasi ekstrem akibat lonjakan wisatawan jangka panjang. Harga sewa melonjak, warga terusir, dan ketegangan sosial meningkat.

Alternatif: Telusuri kota-kota kolonial seperti Oaxaca atau Guanajuato yang memiliki budaya kuat dan komunitas lokal yang lebih terbuka terhadap wisata berkelanjutan.

7. Mombasa, Kenya

Wisata pantai di sini mengalami kerusakan lingkungan serius, mulai dari polusi laut hingga meningkatnya praktik wisata tidak etis seperti eksploitasi satwa dan perdagangan seks.

Alternatif: Diani Beach di selatan Kenya atau pantai di Tanzania seperti Nungwi bisa jadi pilihan lebih aman dan ramah lingkungan.

8. Montmartre, Paris, Prancis

Wilayah bohemian ini kini padat luar biasa, mengalahkan Eiffel Tower dalam jumlah pengunjung. Banyak toko lokal tutup digantikan gerai suvenir massal, membuat Montmartre kehilangan jiwa seni dan warganya.

Alternatif: Jelajahi distrik seni Belleville atau Canal Saint-Martin yang masih mempertahankan karakter lokal.

Saatnya Jadi Traveler yang Bertanggung Jawab

Memilih untuk tidak mengunjungi tempat tertentu bukan berarti anti traveling. Sebaliknya, itu menunjukkan empati dan kesadaran akan dampak jangka panjang perjalanan. Sebagai traveler peduli lingkungan, kamu bisa berkontribusi dengan memilih destinasi alternatif, menggunakan transportasi rendah emisi, dan mendukung bisnis lokal yang berkelanjutan.

Ingat, setiap perjalanan adalah pilihan. Pilihlah yang memberi manfaat, bukan hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi bumi dan masyarakat yang kamu kunjungi.